Theory Oriented VS Action Oriented

Ciri yang amat sangat khas untuk orang yang berhenti pada tataran wacana adalah Ragu-ragu untuk bertindak. Fokusnya pada kendala, bukan pada hasil. Alasannya ini itu..anu nganu..sebanyak 1001 daftar alasan dapat dibuatnya. Terlalu banyak pertimbangan. Cari-cari teori pemecahan masalah. Setelah ketemu, tidak yakin. Cari-cari lagi. Dunia diisi dengan cari-cari.

Ada dua pertanyaan penting dalam hidup kita : why (kenapa) dan how (bagaimana). Orang yang theory oriented berhenti pada pertanyaan why. Bagus juga, wawasannya bertambah. Dan paling-paling ujungnya jadi orang yang senang berdebat.

Orang yang action oriented maju terus melanjutkan dari pertanyaan why ke how. Kenapa pertumbuhan saya bulan ini hanya 1%? Oh, ternyata karena ternyata karena pelanggan saya tidak loyal, sering berpindah-pindah tempat. Lalu bagaimana saya mengatasinya? Oh, saya buat saja member card (kartu keanggotaan). Saya beri gift untuk total pembelian sekian.

Bulan berikutnya, oh lumayan meningkat 5%. Tapi kok kenapa cuma 5%? Saya kurang puas, bagaimana supaya lebih dari 5%? Pertanyaan how adalah pertanyaan pembedahan otak. Sementara pertanyaan why masih mengelus-elus kepala.

Lalu, bolehkah kita berteori? Boleh saja. Justru bagus. Namun berteorilah setelah bertindak. Jangan dibalik. Peter Skillman menyatakannya dengan bagus, “ Pembentukan dasar yang cepat adalah keyakinan kami. Ketika kami memiliki suatu gagasan, kami membuatnya seketika sehingga kami bisa melihatnya, mencobanya, dan belajar dari gagasan itu”.

Saya terkesan dengan perubahan dramatis dari Bayport Terminal di Seabrook, Texas. Ini adalah salah satu contoh kasus bagaimana menggunakan keuntungan tindakan sebagai guru terbaik.
Sebelum tahun 1994, terminal Bayport dimuati hampir 3 milliard pound bahan kimia setiap tahun ke dalam drum dan kapal. Selanjutnya, Annette Kyle menjadi manajernya.

Kyle menemukan bahwa sebagian besar praktik yang digunakan di terminal sama dengan yang telah mereka lakukan, meskipun jumlah bahan yang ditangani telah meningkat secara dramatis sejak dibuka tahun 1974. Ini membuat terminal tersebut tidak efektif. Terminal tersebut membayar sekitar 2,5 juta dollar setahun dan ongkos nila melebihi batas waktu. Perusahaan yang menjalankan dermaga tersebut membayar ongkos itu untuk kapal yang tidak siap dimuati atau membongkar segera setelah kapal itu tiba. Sementara kapal menunggunya, dendanya sekitar $10,000 tiap jam. Kyle juga menghadapi masalah untuk menemukan bahwa orang-orang di terminal memerlukan waktu rata-rata tiga jam untuk memuati sebuah truk, meskipun rata-rata industri membutuhkan waktu kurang dari satu jam.

Kyle menghabiskan waktu setahun dalam pertanyaan why, untuk mempelajari segala sesuatunya. Kemudia dia dibantu para staf menyusun revolusi di terminal untuk menangani masalah tersebut. Daripada berbicara mereka bertindak. Dalam periode beberapa hari, mereka membuat perubahan besar. Mereka menghilangkan pengawas langsung, menentukan wilayah tanggung jawab, menempatkan tim swakelola, dan mengimplementasikan metrik yang memungkinkan setiap karyawan untuk melihat seberapa baik terminal tersebut bisa setaraf dengan tugas tersebut.

Dampak positif atas perubahan tersebut terbukti dengan segera. Ongkos yang melebihi batas waktu, menurun dari lebih satu juta dollar pada pertengahan pertama tahun 1995 sampai kurang dari 10.000 dollar pada pertengahan pertama tahun 1996. Pada saat yang sama, lebih dari 90% truk dimuati dalam waktu satu jam dari kedatangannya. Meskipun para karyawan terkejut dengan perubahan tersebut pada awalnya, mereka segera memahami – dengan melakukan – cara2 bekerja yang baru dan lebih baik. Dan menurut survei sikap karyawan yang dilakukan oleh para peneliti independen di bulan Mei 1996, mereka sangat puas dengan perubahan terebut.

Kyle pecaya bahwa salah satu rintangan terbesar untuk berubah adalah bahwa orang secara terus-menerus mengeluhkan segala sesuatu tanpa bertanggung jawab untuk membuatnya lebih baik. Dia memasang badge “Tidak boleh mengeluh” yang dijahit di seragam setiap orang dan menjelaskan bahwa mengeluhkan sesuatu tanpa berusaha melakukan sesuatu tidaklah bisa diterima.

Inilah salah satu contoh yang sangat menarik ketika action datang pada saat pertanyaan why dilanjutkan dengan how. Inilah action oriented. Terlalu banyak menjawab pertanyaan why, itulah theory oriented. Mesin mobil yang dipanaskan terus menerus tanpa memasukkan kopling 1 untuk berjalan.
Theory oriented VS Action Oriented, resiko sama…hasil beda.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: