Orang Buta Membawa Tanglong

Orang Buta Membawa Tanglong By Andrew Ho
Pada suatu sore ada sebuah jamuan makan malam dalam acara reuni para kerabat dekat dan teman lama. Acara yang dihadiri oleh banyak tamu itu berlangsung lancar dan mengesankan. Salah seorang tamu dalam jamuan tersebut buta.

Ketika acara selesai larut malam, orang buta itu meminjam sebuah tanglong kepada temannya. Permohonan orang buta itu tentu saja membuat temanya terheran-heran. “Kamu buta, tidak kelihatan. Kenapa harus membawa tanglong?” tanya temannya.

Orang buta itu menjawab, “Karena saya buta, maka saya lebih membutuhkan tanglong.”

“Lampu penerangan di luar itu adalah untuk orang lain. Sedangkan tanglong ini bukan untuk menerangi perjalanan saya, karena toh saya tidak dapat melihat. Tetapi jika saya membawa tanglong, maka tanglong ini akan menerangi saya. Sehingga orang lain tidak akan melanggar saya, dan sayapun tidak akan melanggar mereka,” lanjut orang buta itu menjelaskan.

“Ehmm, benar juga ya?” sahut temannya sembari menyerahkan sebuah tanglong, sekaligus pertanda bahwa ia memahami penjelasan dari orang buta itu.

Pesan:

Tanglong adalah sejenis lampu penerang atau sering disebut lampion. Tanglong yang dibawa orang buta bukanlah ‘penerang’ yang sebenarnya. Tanglong itu dapat kita artikan sebagai penerang hati dan pikiran. Kalaupun seseorang buta secara fisik, atau dapat kita artikan sebagai kekurangan diri kita, itu bukanlah suatu kendala serius untuk dapat tetap melanjutkan perjalanan kehidupan dengan baik dan mencapai kesuksesan.

Setiap orang membutuhkan penerang bagi hati dan pikiran agar mampu berpikir dan bertindak positif. Zig Ziglar mengatakan, “Sikap Anda bukanlah bakat atau kecerdasan, yang akan menentukan tingkat kesuksesan Anda.” Dengan pikiran dan sikap yang positif itu, maka ia akan mudah menciptakan berjuta kreatifitas dan milyaran peluang serta trilyunan orang yang akan membantu mewujudkan keberhasilan itu.

Benar pendapat Zig Ziglar bahwa tugas membuat kita melakukannya dengan baik, dan cinta kasih membuat kita melakukan tugas dengan sangat indah. Sebab bila kita kehilangan kasih sayang, berarti kita kehilangan kehidupan. Stephen R. Covey menganjurkan kita melakukan 7 kebiasaan untuk dapat menghiasi setiap upaya dan menerangi jalan kita mencapai tujuan dengan cinta dan kasih sayang kepada sesama.

Tujuh kebiasaan itu adalah:
1. Be proactive – Bersikap proaktif atau aktif, atau tidak hanya berpangku tangan saja.
2. Begin with the end in mind – Memikirkan dengan matang segala sesuatu sebelum memulai dan memperkirakan dengan baik hasil serta efek yang ditimbulkan terhadap orang lain.
3. Put first things first – Letakkan segalanya dengan benar, atau sesuai dengan tingkat penting dan tidaknya.
4. Think win win – Tidak hanya memikirkan keuntungan pribadi, melainkan apa yang bisa dinikmati oleh orang lain.
5. Seek first to understand than to be understood – Berusaha untuk lebih peka dan memahami dibandingkan ingin dimengerti atau dipahami.
6. Synergize – Bersikaplah kooperatif, atau saling membantu dan memberikan kekuatan.
7. Sharpen the saw – Pertajam kepekaan dalam menganalisa.

Semoga dengan membudayakan ke-7 kebiasaan tersebut, kita segera mendapatkan kehidupan yang jauh lebih sukses dan penuh kebahagiaan.

One Response to “Orang Buta Membawa Tanglong”

  1. suhadinet Says:

    Lama gak mampir….
    Wah, boleh dicoba nih yang tujuh itu. Tapi rada susah juga mungkin ya untuk membiasakan itu……

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: