Putra Presiden VS Putra Khalifah

images7.jpgSuatu hari, Abdullah bin Al Faraj membutuhkan seorang pekerja. Ia pergi ke pasar dan menemukan seorang lelaki yang berwajah pucat sedang membawa keranjang dan sekop. Abdullah menawarkan pekerjaan dan jumlah gaji yang akan diterima. Si pemuda menerima tetapi ia mengajukan syarat. “Aku mau bekerja tapi dengan syarat bila waktu shalat tiba akau akan berhenti, lalu melanjutkan pekerjaanku setelah itu,” katanya. ”Baiklah, aku setuju,” kata Abdullah

Setelah itu Abdullah mengajak pemuda tersebut ke rumahnya, lalu mempekerjakannya. Anak muda itu bekerja sangat cekatan dan trampil. Setiap kali adzan terdengar ia selalu minta izin untuk berhenti dan melanjutkan kembali pekerjaanya setelah shalat. Setelah merampubgkan pekerjaannya, Abdullah memberikan upahnya dan menyuruhnya pulang.

Satu ketika, Abdullah membutuhkannya lagi. Ia mencari si pemuda, tapi tidak dijumpainya. Menurut orang-orang yang mengenalinya, ia sedang sakit. Abdullah lalu mencari alamatnya dan mendatangi rumahnya. Ia ternyata tinggal di sebuah gubuk kecil, ditemani seorang wanita lanjut usia. Si pemuda benar-benar sakit keras. Ia sedang berbaring dengan berbantalkan sebuah batu bata. Setalah mengucapkan salam, Abdullah berkata, “Ada yang bisa kubantu untukmu?”

“Ya, jika aku meninggal nanti, tolong jualkan skop ini. Tolong cucikan jubah dan kainku. Lalu gunakanlah untuk mengkafaniku. Sobeklah saku jubahku dan ambillah cincin didalamnya. Jika anda bertemu dengan Khalifah Harun ArRasyid serahkanlah cincin itu kepadanya. Lakukanlah setelah aku dimakamkan,” pinta si pemuda.

Setelah kematiannya, Abdulah menemui Khalifah Harun Ar Rasyid dan menyerahkan cincin si pemuda, sambil menceritakan kisahnya. Khalifah menangis dan berkata,”Dia adalah puteraku. Setelah aku menjadi khalifah, dia meninggalkanku dan tidak mau mengambil hartaku sedikitpun. Aku menyerahkan cincin ini melalui ibunya sambil berpesan,” berikan cincin ini padanya. Suruhlah dia menyimpannya. Suatu saat, jika ia butuh uang ia bisa menjualnya.” Sejak ibunya wafat, aku kehilangan kontak dengannya hingga kamu datang.”

Abdullah pun ikut menangis mendengar penuturan khalifah. Ia juga merasa bersalah telah mempekerjakan seorang pangeran. Tetapi itulah suatu bukti, bahwa seseorang akan tetap mempunyai energi besar untuk menunaikan niat baiknya dalam hidupnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: