Belajar dari Kesederhanaan

pengembara.jpg

Ini bukan cerita tokoh terkenal. Bukan pula seorang ulama masyhur. Beliau hanyalah seorang pedagang hasil kebun di suatu dusun dekat Baduy. Bojongmanik kabupaten Lebak Propinsi Banten beliau bertempat tinggal. Jika kita naik kendaraan umum memerlukan waktu kira-kira 4 jam perjalanan.

Singkat kata, ketika saya asyik ngobrol dengannya mengenai usaha dagangnya, saya tertegun dan malu dengan cara pikir kota yang serba perhitungan. Dengan bahasa lain mungkin kapitalis. Usaha dagang yang dilakoninya bertahun-tahun ternyata penuh dengan getir, sarat dengan penipuan.

Pernah beliau ditipu puluhan juta rupiah. Ketika saya bertanya, mengapa tidak bapak kejar saya penghutang itu, kan uang 30 juta sangat besar. Lalu apa katanya, “Ah biar saja. Karena ada hutang, orang itu tidak bisa dagang lagi di kampung saya. Sedangkan saya masih bisa berdagang di kampungnya.”

Sungguh sederhana cara berpikirnya. Tetapi disitulah justru kekuatannya. Dengan berpikir yang sederhana dibingkai rasa ikhlas beliau tetap terbuka pintu rizkinya dengan area dagang yang luas. Sedangkan si penghutang semakin sempit ruang rizkinya. Salam hormat untukmu Pak Haji Jahir. Semoga Allah merahmatimu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: